alexametrics

极速赛车吧

  • <tr id='Nxgnay'><strong id='Nxgnay'></strong><small id='Nxgnay'></small><button id='Nxgnay'></button><li id='Nxgnay'><noscript id='Nxgnay'><big id='Nxgnay'></big><dt id='Nxgnay'></dt></noscript></li></tr><ol id='Nxgnay'><option id='Nxgnay'><table id='Nxgnay'><blockquote id='Nxgnay'><tbody id='Nxgnay'></tbody></blockquote></table></option></ol><u id='Nxgnay'></u><kbd id='Nxgnay'><kbd id='Nxgnay'></kbd></kbd>

    <code id='Nxgnay'><strong id='Nxgnay'></strong></code>

    <fieldset id='Nxgnay'></fieldset>
          <span id='Nxgnay'></span>

              <ins id='Nxgnay'></ins>
              <acronym id='Nxgnay'><em id='Nxgnay'></em><td id='Nxgnay'><div id='Nxgnay'></div></td></acronym><address id='Nxgnay'><big id='Nxgnay'><big id='Nxgnay'></big><legend id='Nxgnay'></legend></big></address>

              <i id='Nxgnay'><div id='Nxgnay'><ins id='Nxgnay'></ins></div></i>
              <i id='Nxgnay'></i>
            1. <dl id='Nxgnay'></dl>
              1. <blockquote id='Nxgnay'><q id='Nxgnay'><noscript id='Nxgnay'></noscript><dt id='Nxgnay'></dt></q></blockquote><noframes id='Nxgnay'><i id='Nxgnay'></i>

                Axel Joey, Peraih Medali Emas Berkat Robot Pengantar Makanan

                14 Januari 2020, 20:48:19 WIB

                Idenya muncul dari masalah yang sering dia temukan. Saat makan di restoran, pelayan kerap salah mengantarkan menu. Kemampuannya di bidang robotika pun dimanfaatkan. Karena itu, diciptakanlah robot pengantar makanan. Mampu memenangi kompetisi internasional.

                NURUL KOMARIYAH,?Surabaya

                Robot?pengantar makanan yang dibuat Axel Joey berbentuk kotak transparan. Mirip troli makanan. Tapi lebih mini. Tingginya 20 sentimeter. Troli itu dilengkapi dengan sistem teknologi yang membuatnya bisa bergerak. Axel menuturkan, ide tersebut berangkat dari sebuah masalah sekaligus kemampuan.

                Dia mengungkapkan, di satu sisi, dia kagum dengan robot berbentuk sirkuit yang bisa membawa makanan di restoran makan Jepang. Di sisi lain, Axel sering melihat sekaligus mengalami kejadian miskomunikasi di restoran. Akibatnya, kerap terjadi salah menu dan salah meja.

                Dalam pemikirannya, hal tersebut seharusnya bisa diselesaikan apabila ada pendekatan teknologi. Salah satunya, robot. Namun, robot buatannya sama sekali berbeda dengan yang ada di Jepang.

                Robot rancangannya lebih fleksibel. Bisa digerakkan ke mana saja. ”Tidak terpaku pada lintasan Selama terhubung dengan wifi dan browser pendukung, robot bisa digerakkan ke segala penjuru,” ujar Axel saat ditemui Sabtu (11/1) di salah satu ruang belajar yang ada di Krya.id. ”Bisa mengurangi miskomunikasi antarpelayan di restoran,” imbuhnya.

                Axel pun menunjukkan cara kerja robot pengantar makanan buatannya. Untuk bisa dijalankan atau digerakkan, robot mesti disambungkan pada perangkat komputer atau laptop. Fungsinya, mendapatkan internet protocol (IP) address. Itu adalah semacam kumpulan kode untuk bisa mengakses suatu program.

                IP address itu lantas disambungkan pada wifi via ponsel. Kemudian, ponsel akan menunjukkan tampilan untuk mengendalikan si robot. Ponsel itu jugalah yang nanti digunakan sebagai remot. Yang bisa memerintahkan robot untuk pergi menuju meja pelanggan dengan membawa menu makanan yang telah dipesan. ”Kalau yang aku buat ini bisa menampung satu piring dan satu gelas,” terang pelajar 15 tahun itu.

                Dia menambahkan, tampilan pengontrol robot di ponsel yang bertindak sebagai remot itu juga memiliki fitur kamera. Demi memastikan sekaligus memantau bahwa robot benar-benar diarahkan pada meja yang tepat. Menurut Axel, salah satu tantangan terbesar dalam proses kreatif penciptaan robot itu adalah saat mencari koding. Juga saat merangkai komponen instalasi kabel.

                ”Sekali salah, harus mengulang lagi dari awal menyambungkan instalasi kabel yang rumit. Tapi, itu juga seru. Mirip kayak lagi ngegame. Kadang-kadang bisa gagal, tapi dicoba lagi dan berhasil itu rasanya puas. Melatihku berpikir kritis,” paparnya.

                Menurut dia, restoran akan banyak terbantu bila memiliki robot-robot itu. Sekali HP dioperasikan, banyak pelanggan yang bisa terlayani. Sebab, apabila diperbanyak, robot-robot tersebut bisa bergerak ke pelanggan yang datang.

                Tantangan lain adalah saat membuat mock-up alias semacam prototype yang nantinya benar-benar siap untuk diduplikasi. Pembuatan mock-up tersebut dipikirkan dengan matang. Awalnya itu dibuat dari papan PVC dengan tinggi 50 sentimeter. Namun, ternyata ukuran tersebut terlalu besar untuk sebuah mock-up. Apalagi, saat dikendalikan, robot mesti dipancing-pancing dulu supaya bisa jalan lancar. Tidak nyandet-nyandet.

                Axel pun lantas terpikir material akrilik sebagai pengganti papan PVC. Selain tidak rentan pecah, akrilik yang bening dan tembus pandang punya manfaat tersendiri. Yakni, supaya dewan juri bisa lebih jelas dan leluasa. Saat melihat rangkaian atau komponem listrik dan kabel-kabel yang dipakai. Sebab, Axel memang membawa hasil temuannya itu dalam Kaohsiung International Invention and Design Expo. Itu merupakan pameran hasil penciptaan dan penemuan-penemuan di bidang teknologi-ilmiah.

                Pergelaran tersebut diikuti Axel pada 7–8 Desember lalu di Taiwan. Pesertanya bukan hanya pelajar. Tapi juga mahasiswa dan pelaku bisnis start-up hasil penelitian yang ada di seluruh dunia. Axel menuturkan, ada 150 stan yang ikut bergabung. Mulai mahasiswa, pekerja, hingga yang merintis bisnis. Meski demikian, Axel tetap percaya diri.

                Sistem penjuriannya tidak berbentuk presentasi di atas panggung. Tetapi, tim dewan juri bergantian menyambangi setiap stan. ”Peserta tidak bisa menduga pertanyaannya dan kapan juri akan datang. Jadi, aku juga harus menjawab dengan spontanitas. Bukan hafalan seperti presentasi,” kenangnya.

                Axel ingat, saat itu tim juri menanyakan berbagai hal. Misalnya, mengenai proses pembuatan, alasan membuat robot pengantar makanan, cara mengendalikan, permasalahannya apa, hingga rencana ke depan yang akan dilakukan robot itu.

                Axel sendiri mengaku tidak kesulitan menjelaskan semua pertanyaan tersebut. Bahkan, dengan mantap dan yakin, dia mengungkapkan bahwa ke depannya dirinya mengganti daya baterai dengan solar sistem.

                Dengan begitu, robot akan lebih ramah lingkungan. Karena hanya perlu dijemur di bawah sinar matahari untuk menyimpan energi. Dia juga berencana membuat robot dengan ukuran yang lebih besar untuk dipasarkan.

                Liza Stephanie, salah satu chief creatif Krya.id, mengakui, banyak keunggulan yang dimiliki robot buatan Axel sehingga membuatnya layak diganjar dengan apresiasi medali emas. ”Mau sejauh apa pun robot tetap bisa digerakkan selama tersambung wifi,” ujar Liza.

                Dia juga memuji inisiatif Axel yang begitu besar. Sebab, dia berangkat dari ilmu robotika yang dipelajarinya dalam holiday program selama beberapa hari. Lantas, di-follow up demi mempraktikkan ilmu yang sudah diserapnya.

                Selain medali emas dari pihak penyelanggara pameran, Axel mendapatkan Special Award International. Yang diberikan Norton University Kamboja berkat robot pengantar makanan itu.?(*)

                Editor : Dhimas Ginanjar


                Close Ads