alexametrics

Pembelajaran Daring untuk Siswa

OLEH: RITA PRANAWATI *)
29 April 2020, 19:48:45 WIB

SELALU?ada hikmah pada setiap musibah. Pandemi Covid-19 memaksa kita untuk tetap tinggal di rumah. Terjadi perubahan mendasar pada situasi hari ini. Aktivitas orang tua dan anak menjadi satu di rumah. Sementara itu, pembelajaran yang biasanya dijalani dengan bertatap muka kini melalui daring.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim memutuskan, seluruh proses pembelajaran anak usia sekolah dilakukan melalui pembelajaran jarak jauh (PJJ) atau daring selama masa darurat Covid-19. Memang tidak semua anak dapat menjalani secara konsisten pembelajaran daring karena berbagai keterbatasan. Misalnya, ketiadaan fasilitas gawai (ponsel, laptop, dan tablet), rendahnya pemahaman tentang media digital, terbatasnya kemampuan membeli pulsa, dan keterbatasan sinyal. Namun, hampir sebagian besar siswa telah merasakan pembelajaran daring.

Proses Adaptasi

Mendikbud menyebut pembelajaran daring sebagai proses beradaptasi dengan teknologi. Adaptasi dengan teknologi bagi anak-anak adalah hal yang jauh lebih mudah. Apalagi, saat ini sekolah berhadapan dengan generasi Z. Generasi yang sangat lekat dan akrab dengan gawai atau teknologi digital. Karena itu, sebenarnya anak-anak lebih mudah beradaptasi untuk menggunakan teknologi.

Adaptasi teknologilah yang kemudian mendorong anak-anak untuk mudah bermigrasi ke era industri 4.0. Selama ini mungkin anak-anak belum sepenuhnya menyadari bahwa era industri 4.0 membuat efisiensi waktu dan tenaga kerja.

Dalam hal ini, anak tidak harus pergi ke sekolah dengan menggunakan moda transportasi, tapi dapat langsung melalui online ketika belajar. Apalagi di tengah pandemi Covid-19, teknologi menjadi penghubung utama dalam proses belajar. Dunia maya yang selama ini sudah dijelajahi anak-anak menjadi dunia yang benar-benar hadir sebagai sebuah proses pembelajaran. Pembelajaran tatap muka dengan bantuan teknologi internet.

Bukan hanya siswa yang beradaptasi, guru pun beradaptasi dengan perubahan ini. Peran guru berubah, tapi peran secara fisik berkurang karena penggunaan berbagai media pengajaran. Guru juga dipaksa belajar teknologi baru dengan berbagai media pembelajaran. Guru mulai membuat video, aplikasi Moodle, Google Classroom, dan berbagai aplikasi yang terhubung dengan institusi pendidikannya.

Guru juga beradaptasi untuk melakukan asesmen seberapa banyak materi, nilai, dan value yang akan dijadikan bahan ajar agar anak-anak tetap belajar dalam situasi yang nyaman dan menyenangkan. Guru juga akan berusaha agar semua siswa dapat mengerjakan tugas tanpa harus membebani anak-anak dan tetap memperhatikan kondisi tiap-tiap anak.

Literasi Digital

Sebelum era pembelajaran jarak jauh menggunakan sistem daring, banyak orang tua yang memiliki kekhawatiran ketika anaknya memegang gawai. Kekhawatiran tersebut, antara lain, anak akan kacanduan gawai, main game, bahkan berpotensi melihat konten dewasa dan konten yang mengandung kekerasan. Kekhawatiran itu semakin menjadi karena nyatanya memang ada anak-anak yang terjerumus dalam penyalahgunaan gawai dan teknologi informasi hingga kecanduan dan mengalami gangguan kesehatan mental.

Saat ini anak-anak memanfaatkan gawai dan akses internet untuk proses pembelajaran. Anak-anak mulai belajar bagaimana memanfaatkan media sosial untuk tatap muka daring dengan guru sekaligus bersua secara virtual dengan teman-temannya. Anak-anak juga mengasah keterampilan TIK (teknologi informasi dan komunikasi)-nya mulai dari mengetik tugas dengan Microsoft Word, membuat paparan dengan Power Point, membuat gambar atau poster, membuat video pendek, dan keterampilan teknologi informasi lainnya.

Anak-anak juga belajar menggunakan surat elektronik, mengunduh materi, memasukkan lampiran ke dalam surat elektronik, dan memasukkan tugas ke dalam aplikasi tertentu. Mereka juga belajar mencari informasi melalui dunia maya untuk menunjang pembelajaran.

Pembelajaran dengan teknologi informasi pada era Covid-19 ini merupakan proses literasi digital yang tidak disadari banyak anak-anak kita. Selama ini proses literasi digital berlangsung lambat dan parsial. Namun, hari-hari ini anak-anak mengalami pembelajaran yang luar biasa untuk memahami apa itu gawai, bagaimana pemanfaatan gawai dan teknologi informasi secara baik. Anak-anak juga belajar bagaimana memanfaatkan media sosial dan aplikasi-aplikasi lain untuk mendukung pembelajaran jarak jauh yang mereka jalani. Sebuah proses literasi digital yang sangat luar biasa positif bagi anak-anak.

Kemampuan Mengatur Diri

Dalam proses literasi digital, selain aspek positif, anak-anak perlu mengetahui potensi negatif dalam proses mengakses internet. Anak-anak perlu memahami dampak jika bermain game terlalu lama dan mengakses konten yang mengandung unsur kekerasan dan pornografi. Anak-anak perlu menghentikan jika tiba-tiba ada pop-up iklan yang mengandung unsur pornografi dan kekerasan.

Guru memiliki fungsi yang penting agar anak dapat mengatur dan mengelola diri dalam memanfaatkan gawai dan koneksi internet. Guru memberikan tugas-tugas agar anak-anak dapat mengelola diri, memanfaatkan gawai dan internet untuk mendukung pembelajaran jarak jauh. Guru juga bertugas mengontrol aktivitas pembelajaran daring sekaligus memberikan masukan agar siswa terus memanfaatkan gawai, aplikasi, dan koneksi internet untuk mengembangkan pengetahuan.

Orang tua pun memiliki tanggung jawab mendampingi, memberikan masukan, dan mengawasi anak-anak dalam memanfaatkan penggunaan gawai pada era pembelajaran daring ini. Orang tua perlu membuka komunikasi yang dialogis dan membangun keterbukaan agar anak dapat menyeimbangkan belajar daring dan refreshing.

Hal itu mengingat anak mengakses internet di rumah dan tidak jarang pula di tengah-tengah belajar atau sesudah belajar anak-anak berselancar di dunia maya, bermain game, atau mengakses media sosial lainnya. Orang tua perlu mendorong anak-anak agar dapat bertanggung jawab terhadap pemanfaatan gawai untuk hal-hal yang produktif. Kemampuan mengatur diri itu akan menjadi kecerdasan emosi anak untuk menghadapi era industri 4.0.

Akhirnya, selalu ada hikmah dalam setiap peristiwa. Semoga pembelajaran daring bagi anak-anak membawa kebermanfaatan bagi masa depan mereka untuk menjadi sumber daya manusia (SDM) unggul Indonesia.?(*)


*) Rita Pranawati, Wakil ketua , Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), dosen FISIP Uhamka Jakarta

 

Saksikan video menarik berikut ini:

Editor : Dhimas Ginanjar



Close Ads