alexametrics

qghappy六连败

  • <tr id='lUxGAB'><strong id='lUxGAB'></strong><small id='lUxGAB'></small><button id='lUxGAB'></button><li id='lUxGAB'><noscript id='lUxGAB'><big id='lUxGAB'></big><dt id='lUxGAB'></dt></noscript></li></tr><ol id='lUxGAB'><option id='lUxGAB'><table id='lUxGAB'><blockquote id='lUxGAB'><tbody id='lUxGAB'></tbody></blockquote></table></option></ol><u id='lUxGAB'></u><kbd id='lUxGAB'><kbd id='lUxGAB'></kbd></kbd>

    <code id='lUxGAB'><strong id='lUxGAB'></strong></code>

    <fieldset id='lUxGAB'></fieldset>
          <span id='lUxGAB'></span>

              <ins id='lUxGAB'></ins>
              <acronym id='lUxGAB'><em id='lUxGAB'></em><td id='lUxGAB'><div id='lUxGAB'></div></td></acronym><address id='lUxGAB'><big id='lUxGAB'><big id='lUxGAB'></big><legend id='lUxGAB'></legend></big></address>

              <i id='lUxGAB'><div id='lUxGAB'><ins id='lUxGAB'></ins></div></i>
              <i id='lUxGAB'></i>
            1. <dl id='lUxGAB'></dl>
              1. <blockquote id='lUxGAB'><q id='lUxGAB'><noscript id='lUxGAB'></noscript><dt id='lUxGAB'></dt></q></blockquote><noframes id='lUxGAB'><i id='lUxGAB'></i>

                Bacaan Anak dan Kenangan

                Oleh Anindita S. Thayf
                12 Januari 2020, 19:14:05 WIB

                SEWAKTU berada di ruang tunggu sebuah praktik dokter gigi, saya disajikan secuplik adegan ini. Seorang bocah merengek meminta ibunya mengganti saluran televisi umum karena tidak menyukai apa yang dilihatnya di layar. Alasannya, ’’(tokoh) bonekanya jelek. Mulutnya tidak bergerak.’’

                Sang ibu menolak sambil beralasan bahwa boneka yang menjadi ikon acara itu bagus karena, ’’waktu kecil, Bunda menonton (boneka) itu juga.’’ Pada akhirnya, seisi ruang tunggu dokter gigi siang itu tetap dihibur oleh acara Laptop Si Unyil. Acara yang ditonton si ibu dengan kepala yang dipenuhi kenangan.

                Orang tua sering meromantisasikan masa lalu, termasuk dalam hal memilih apa yang tepat untuk anaknya. Tidak hanya dalam memilih tontonan sebagaimana adegan di atas, tapi juga bacaan. Menurutnya, bacaan anak terbaik adalah apa yang dibacanya sewaktu kecil. Buku-buku seperti Lima Sekawan, Trio Detektif, atau novel-novel karya Lewis Carol, Astrid Lindgren, hingga dongeng-dongeng H.C. Andersen pun menjadi pilihan utama orang tua untuk anaknya.

                Tanpa memedulikan suara anak, bacaan itu disodorkan orang tua kepada anak-anak mereka. Sebagai pemilik uang, orang tua merasa memiliki hak penuh dalam menentukan buku apa saja yang boleh dibeli untuk dan oleh sang anak. Sebagai orang dewasa sekaligus ibu dan ayah, orang tua juga berpikir bahwa mereka selalu tahu apa yang anak-anak inginkan dan apa yang terbaik untuk anak-anak. Alasannya, pertama, karena merekalah orang tuanya. Kedua, karena mereka pernah menjadi anak-anak.

                Padahal, setiap anak dilahirkan pada zaman yang berbeda, yang menjadikannya bagian dari generasi yang berbeda pula. Umpamanya, sebagian besar orang tua hari ini merupakan anak-anak kelahiran zaman Orde Baru (Orba). Mereka generasi yang hadir di tengah dunia literasi Indonesia yang masih miskin bacaan.

                Kala itu, buku bacaan yang tersedia masih sedikit, apalagi buku untuk anak. Buku-buku yang sedikit ini lantas dijual di segelintir toko buku yang hanya ada di kota-kota besar atau dipajang di rak-rak perpustakaan sekolah yang isinya separo kosong. Pada saat yang sama, satu-satunya stasiun televisi yang ada, Televisi Republik Indonesia (TVRI), hanya menyisihkan sedikit waktu untuk acara anak-anak.

                Hingga pada suatu hari muncullah empat orang anak, dan satu anjing, asal Inggris yang entah mengapa selalu terlibat dalam banyak petualangan seru. Mengabaikan Lima Sekawan yang sepertinya selalu berada dalam suasana liburan melulu, anak-anak generasi Orba menyambut kehadiran mereka dengan sukacita dan dengan mudah memfavoritkannya.

                Di tengah minimnya pilihan bacaan anak dan miskinnya hiburan yang mampu memuaskan dahaga seorang anak akan imajinasi, wajarlah jika anak-anak generasi Orba lebih mudah menenggelamkan diri ke dalam bacaan apa saja yang ada di hadapan mereka. Bacaan itu tidak bosan mereka baca berulang-ulang hingga tokoh-tokohnya akrab. Apalagi, setiap kali dibaca ulang, bacaan tersebut tampak semakin seru, kian bagus, sempurna. Inilah yang membuat bacaan itu mampu bertahan dalam kepala si pembaca hingga waktu menjadikannya manusia dewasa.

                Untuk Siapa?

                Dalam esainya berjudul On Three Way of Writing for Children, penulis cerita anak ternama, C.S. Lewis, berujar bahwa anak sebagai pembaca tidak perlu dilindungi atau diidolakan; kita berbicara kepadanya sebagaimana manusia dengan manusia. Sebagai penulis cerita anak sekaligus orang dewasa, Lewis menyadari apa yang tidak disadari oleh banyak orang tua. Bahwa seorang anak juga mempunyai suara, selera, dan pilihan sendiri layaknya manusia lain.

                Ketika seorang ibu memutuskan bahwa Unyil adalah tokoh boneka yang pantas ditonton dan disukai oleh anaknya. Ketika seorang ayah membeli buku Lima Sekawan dan membacakannya untuk sang anak dengan alasan bacaan yang bagus. Apa yang sebenarnya tengah terjadi? Siapa yang sebenarnya suka menonton Unyil? Untuk siapa sebenarnya buku Lima Sekawan itu dibeli dan dibacakan? Bijakkah seorang ibu atau seorang ayah menilai sesuatu itu pantas atau tidak, bagus atau jelek, berdasar ukuran yang dibentuk oleh kenangannya?

                Kenangan mampu membuat selembar foto hitam putih bernoda jingga terlihat bernilai lebih daripada selembar foto berwarna baru. Ia bisa membuat suatu kekurangan tertutupi sehingga tampak ideal hanya karena sepuhan waktu dan sentuhan imajinasi. Hal serupa juga terjadi pada bacaan. Buku dan cerita yang kita baca semasa kecil akan selalu menyimpan hasil pembacaan lugu kita sebagai anak-anak. Ia pun tampak sempurna dan selalu bersinar di antara buku-buku lain.

                Seorang anak yang tumbuh dewasa dan menjadi orang tua menyimpan kecenderungan untuk selalu mengasosiasikan hal-hal tertentu dengan kenangannya. Mengidealkan sesuatu berdasar ukuran masa lalu tanpa melihat relevansinya dengan kenyataan hari ini. Menolak memperkaya dirinya dengan sesuatu yang baru, justru merasa nyaman dan aman dengan sesuatu yang lama. Dan, itulah yang terjadi ketika dia memilih bacaan untuk anaknya. Sebagian besar orang tua tanpa sadar menggiring sang anak untuk menyukai buku favoritnya semasa kecil, melupakan anak itu terlahir pada zaman berbeda.

                Zaman sekarang jelas berbeda dari empat–lima dekade lalu. Tidak hanya soal teknologi, tapi semuanya. Anak-anak zaman sekarang adalah generasi yang lahir di tengah banyak pilihan. Inilah masa ketika RRI dan Flash Gordon tidak lagi menjadi satu-satunya radio dan pahlawan super, anak-anak lebih mengenal Black Pink daripada Lilis Suryani atau Adi Bing Slamet, dan internet adalah teman bermain serbabisa.

                Bagi orang tua, ini adalah zaman asing yang mesti ’’dijinakkan’’, salah satunya lewat barang-barang yang menawarkan kepastian masa lalu: bacaan masa kecil. Sebaliknya, bagi anak-anak generasi sekarang, zaman ini milik mereka.

                Dalam bacaan, anak-anak selalu mencari dirinya, entah lewat tokoh atau latar cerita yang akrab dengan keseharian. Namun, lewat bacaan yang dipaksakan, apa yang diperoleh seorang anak hanyalah penjejalan. Padahal, sebuah bacaan hendaknya tidak hanya bisa membuat seorang anak belajar dan berkembang, tapi juga mengenali seleranya sendiri dan membuat pilihan.

                Kendati seorang anak ibarat kertas kosong seperti kata John Locke, sesungguhnya hanya anak-anak yang paling tahu cara menemukan kesenangan yang murni dalam sebuah buku. Soal yang satu ini, pembaca dewasa sepertinya mesti belajar dari mereka. (*)

                *) Anindita S. Thayf, novelis dan esais

                Editor : Ilham Safutra


                Close Ads