alexametrics

pk10怎么算冠军口诀

  • <tr id='FctWEZ'><strong id='FctWEZ'></strong><small id='FctWEZ'></small><button id='FctWEZ'></button><li id='FctWEZ'><noscript id='FctWEZ'><big id='FctWEZ'></big><dt id='FctWEZ'></dt></noscript></li></tr><ol id='FctWEZ'><option id='FctWEZ'><table id='FctWEZ'><blockquote id='FctWEZ'><tbody id='FctWEZ'></tbody></blockquote></table></option></ol><u id='FctWEZ'></u><kbd id='FctWEZ'><kbd id='FctWEZ'></kbd></kbd>

    <code id='FctWEZ'><strong id='FctWEZ'></strong></code>

    <fieldset id='FctWEZ'></fieldset>
          <span id='FctWEZ'></span>

              <ins id='FctWEZ'></ins>
              <acronym id='FctWEZ'><em id='FctWEZ'></em><td id='FctWEZ'><div id='FctWEZ'></div></td></acronym><address id='FctWEZ'><big id='FctWEZ'><big id='FctWEZ'></big><legend id='FctWEZ'></legend></big></address>

              <i id='FctWEZ'><div id='FctWEZ'><ins id='FctWEZ'></ins></div></i>
              <i id='FctWEZ'></i>
            1. <dl id='FctWEZ'></dl>
              1. <blockquote id='FctWEZ'><q id='FctWEZ'><noscript id='FctWEZ'></noscript><dt id='FctWEZ'></dt></q></blockquote><noframes id='FctWEZ'><i id='FctWEZ'></i>
                Oleh CANDRA MALIK

                Gumitir

                12 Januari 2020, 19:44:18 WIB

                SECANGKIR kopi dan beberapa potong pisang goreng bisa menjadi teman obrol yang baik. Ketika mengunyah, berhenti bicara, kita mulai ganti mendengar.

                Tapi, kalau semua mulut sibuk memamah biak, gaduh perbincangan bisa seketika sepi. Sedang apa ya mereka, selain menikmati kudapan? Ya, tanyakan saja pada diri kita sendiri. Kita pernah di posisi itu, pasti. Kita makhluk mengobrol, bukan? Walau suka melamun juga, sibuk dengan isi kepala.

                Selalu ada tipikal orang yang gemar dan betah lama di luar rumah, berlama-lama dengan teman-teman, tapi sama sekali tak sama perilakunya setiba lagi di rumah. Dia mungkin periang di luar sana, pendiam di bawah atapnya sendiri. Atau sebaliknya: pendiam di kerumunan, tapi justru ramai dalam kesunyian. Sampean yang mana? Siapa yang betul-betul mengenal diri dan pribadimu? Nah, padanyalah kita sangat butuh untuk mengobrol, dari hati ke hati.

                Dialah seseorang yang mau mengerti kita, meski tidak benar-benar mengerti. Dialah yang tanpa harus ada bahan kunyahan di rongga mulut tapi mau menyumbangkan sebagian besar kuota bicaranya kepada kita. Dalam diam, dia tak hanya berusaha untuk mencerna omongan kita, namun bahkan turut berperan mengurai benang kusut isi kepala kita. Pada awalnya, dia mendengar belaka. Pelan tapi pasti, dia mendengarkan. Dari mulai kata lisan kita, sampai kata hati.

                Nah, tidak selalu ada orang dengan tipikal senang mendengarkan. Seperti otokritik klasik yang sama-sama sudah kita akrabi: telinga ada dua, mulut hanya satu, namun kita lebih suka bicara daripada mendengar. Di lingkaran pergaulanmu, siapakah yang merupakan pendengar yang baik? Tentu, yang saya maksud bukan orang yang setia menyimak tapi menagih ongkos dengar, ya. Namun, berteman dengan pendengar yang baik memang memperkaya kebatinan kita.

                Sering kali, sesungguhnya kita sudah punya jawaban atas pertanyaan-pertanyaan kita sendiri. Persoalan-persoalan hidup kita tak akan datang tanpa kunci jawaban. Namun, kita tetap memerlukan seseorang untuk menumpahkan seluruh perasaan. Seluruh pikiran. Kita hanya butuh didengarkan. Tak bisa disebut ”hanya” sih sebetulnya. Sebab, didengarkan saja tanpa diceramahi teman obrol adalah kemewahan. Acap, kita justru disalahkan dan dia merasa lebih tahu.

                Kemauan mendengar butuh kemampuan mengatupkan bibir. Jikapun masih harus dibantu dengan kudapan, agar mulut lebih baik menguyah daripada mengoceh, tidak apa-apa. Atau, jika lidah harus dibikin sibuk dengan aneka pemanis di bibir gelas, boleh. Demi menguatkan daya tahan menyimak, kalau suka kopi, sesaplah pelan sampai tandas. Jika tembakau dibutuhkan untuk menahan gejolak, boleh juga. Yang tidak boleh, membisu sambil sibuk urusan lain.

                Pendengar yang baik memang tidak minta dimanjakan atau diperlakukan istimewa. Itu hanya soal mencoba mengerti betapa besar energi yang diperlukan untuk mendengar perkara-perkara orang lain seolah-olah diri sendiri tak punya masalah. Bayangkan saja jika kita butuh untuk mencurahkan sesuatu kepada pendengar yang baik, lantas kepada siapakah dia sendiri mencurahkan problem hidup? Betapa berat beban di pundaknya, yang sebagian beban itu berasal dari kita.

                Saya sedang menyesap secangkir kopi di sebuah kafe di bilangan Gunung Gumitir, Banyuwangi, Jawa Timur, saat menulis ini, malam tadi. Lima orang lainnya yang duduk melingkar di meja kami ramai berbincang. Ada satu yang menahan angin senja yang mulai dingin sambil terus berbicara. Ada yang mencolekkan rujak ke sambal, lantas melahapnya. Ada pula yang mengisap sigaret dalam-dalam seraya tidak henti-hentinya mencerocos. Pun ada yang diam.

                Dua di antara lima orang itu sepasang teman lama yang sering silih berganti posisi. Jika yang satu berkeluh kesah, yang lain sukarela mendengarkan. Pun sebaliknya. ”Kalau sudah bermain game, berarti dia sedang stres berat. Saya yang harus ambil peran lebih dalam mengelola bisnis,” kata teman baru saya itu. Sahabatnya, yang juga rekanan bisnisnya, menyahut, ”Kalau sudah tidur lama, tak juga bangun sampai berjam-jam, dia yang tertekan. Saya sudah apal.”

                Tema obrolan tadi malam adalah bisnis rintisan. Bermula dari kamar kos, mereka telah memekarkan bisnis kuliner hingga belasan outlet. Berhasrat mengembangkan sayap lagi, mereka mengundang sejumlah konsultan. Mengajak orang luar melihat ke dalam. Para konsultan itu mendengarkan, dan mendengarkan, sebelum memberikan pandangan. Saya juga mendengarkan, tapi bukan sebagai konsultan. Saya teman. Hidup tak selalu soal bisnis dan ongkos dengar. (*)

                Candra Malik, budayawan

                Editor : Ilham Safutra


                Close Ads