alexametrics

cc投注平台怎么注册

  • <tr id='5kkIsj'><strong id='5kkIsj'></strong><small id='5kkIsj'></small><button id='5kkIsj'></button><li id='5kkIsj'><noscript id='5kkIsj'><big id='5kkIsj'></big><dt id='5kkIsj'></dt></noscript></li></tr><ol id='5kkIsj'><option id='5kkIsj'><table id='5kkIsj'><blockquote id='5kkIsj'><tbody id='5kkIsj'></tbody></blockquote></table></option></ol><u id='5kkIsj'></u><kbd id='5kkIsj'><kbd id='5kkIsj'></kbd></kbd>

    <code id='5kkIsj'><strong id='5kkIsj'></strong></code>

    <fieldset id='5kkIsj'></fieldset>
          <span id='5kkIsj'></span>

              <ins id='5kkIsj'></ins>
              <acronym id='5kkIsj'><em id='5kkIsj'></em><td id='5kkIsj'><div id='5kkIsj'></div></td></acronym><address id='5kkIsj'><big id='5kkIsj'><big id='5kkIsj'></big><legend id='5kkIsj'></legend></big></address>

              <i id='5kkIsj'><div id='5kkIsj'><ins id='5kkIsj'></ins></div></i>
              <i id='5kkIsj'></i>
            1. <dl id='5kkIsj'></dl>
              1. <blockquote id='5kkIsj'><q id='5kkIsj'><noscript id='5kkIsj'></noscript><dt id='5kkIsj'></dt></q></blockquote><noframes id='5kkIsj'><i id='5kkIsj'></i>

                Durian Suluk Madiun: Pilih Manis Ada, Yang Pahit Juga Tersedia

                10 Januari 2020, 17:50:12 WIB

                Durian yang satu ini sudah lama dikenal, terutama di tempat asalnya, Kabupaten Madiun. Rasanya yang khas membuatnya sangat cocok untuk teman ngopi.

                MADIUN?dikenal sebagai salah satu ”pusat” durian di Jatim. Cukup banyak varietas unggulan yang dibudidayakan di sana. Bukan hanya lokal, durian manca seperti D24 hingga montong juga ada.Kabupaten itu juga memiliki sentra pasar durian, tepatnya di Desa Pagotan, Kecamatan Geger.

                Dari beragam jenis durian yang ada di sana, salah satu yang cukup tersohor adalah durian suluk. Varietas lokal itu berasal dari Kecamatan Dolopo. Tepatnya di Desa Suluk.

                Kondisi geografis itulah yang membuat durian suluk punya banyak keunggulan. Selain rasanya khas, para pencinta durian tidak usah khawatir kehabisan stok. Di sana ada sedikitnya 5 ribu pohon durian suluk yang dibudidayakan warga. Saat musim panen tiba, sepanjang jalan desa itu berubah jadi sentra durian.

                Durian Suluk Madiun. (Alfian Rizal/Jawa Pos)

                Dari sekian banyak pelaku usaha durian suluk di desa itu, salah satu yang dikenal adalah Parmin. Pria itu merupakan sesepuh usaha durian desa itu sejak 1985. Selain menanam sendiri, Parmin menampung durian suluk hasil panen warga lain. Dalam sehari, pria itu bisa menjual lebih dari 200 buah.

                Meski jumlah produksi durian suluk begitu banyak, varietas itu hampir selalu habis di pasaran. Sebab, durian tersebut sudah sangat terkenal sejak lama. Bahkan ketika Parmin masih kecil. Sampai-sampai, saat ini tidak warga ada yang tahu persis sejarah pertumbuhan varietas satu ini. ”Yang jelas tukulan (bibit) lokal. Sudah ada sejak lama. Warga hanya tahu namanya durian suluk,” jelasnya.

                Dari segi fisik, durian suluk mudah dikenali. Bentuknya tidak terlalu besar. Beratnya 1 sampai 2 kilogram. Cenderung bulat. Yang unik, kulit durian itu cukup tipis. Hanya satu ruas jari.

                Soal kualitas tidak usah ditanya. Sebab, faktor itulah yang membuat durian suluk jadi buruan. Meski ukuran buahnya kecil, dagingnya tergolong tebal. Antara 1 hingga 1,5 sentimeter.

                Rasanya juga beda. Meski didominasi manis, tapi variasinya banyak. Pembeli bisa memilih. Ada yang manis saja, manis pahit, hingga durian yang punya sensasi pahit panjang juga ada. Warna daging buahnya juga beragam. Ada putih susu, kuning pucat, kuning, hingga kuning tua.

                ”Paling banyak diminati ya yang manis pahit,” katanya.

                Keunggulan itulah yang membuat durian suluk begitu diminati. Pembelinya tak hanya dari Madiun atau daerah lain di Jatim, tapi juga para pencinta durian dari luar provinsi. Karena itu, meski masa panen durian tersebut lebih awal dari jenis lain, rata-rata pelanggan sudah hafal kapan harus datang ke Desa Suluk untuk berburu.

                Satu lagi yang membuat para penikmat durian suluk sulit berpindah ke lainnya. Saat menikmati durian di tempat para penjual, termasuk di kediaman Parmin, secangkir kopi seakan jadi teman wajib. ”Ada yang mencampur kopinya dengan durian. Enak katanya,” ujar Parmin.

                Editor : Dhimas Ginanjar

                Reporter : */c10/ris


                Close Ads